Kebahagiaan di puncak

“ Shut… shut… kamau bilangin sama anak-anak yang lain, ntar pulang sekolah kita kumpulan dulu dirumah aku.” Feni berbisik pada Rena yang duduk di depan bangkunya.
Teng.. teng…teng..
Begitu terdengar bel pulang berbunyi, siswa-siswi kelas X1 IPA 1 berebut untuk pulang. Tapi Feni dan keempat orang sahabatnya masih santai duduk di bangku kelas. Sesuai dengan rencana mereka, Feni, Rena ,Ami ,Rita dan Maya tidak langsung pulang kerumah. Mereka berlima bermain dulu kerumah Feni.
Di rumah Feni merka merencanakan liburan buat hari minggu besok.
“ Minum dulu nih!! Tapi sorry ya makanannya hanya itu saja. Maklum tangagal tua belum belanja..” ucap Feni sambil membawakan 5 gelas jus apel.
“ Gak usah repot-repot Fen kalau gak ada makanan di rumah beli aja dulu ke warung depan!” Ami yang suka becanda mulai berkata.
Sejenak mereka pun terdiam merasakan capek, sambil mencicipi makanan dan minuman yang ada di depan mereka.
“Ee…e… Tar malem minggu kan?! Bingung nih. Malam mingguan sama siapa ya?!” Maya memulai pembicaraan.
“ Masa sih bingung cowok kamu kan 5 tinggal pilih saja maunya sama siapa..” Sahut Maya.
“Mending kamu tinggal milih. Coba aku, merana tiap malam minggu.” Ucap Rena yang dari tadi asyik baca majalah.
“ Kan kamu juga tinggal milih..”
Maya membalikan ucapan Rena.
“ Cari dwonk say!” Ujar Ami.
Semuanya tersenyum melihat wajah Rena yagng kelihatan bingung.
“ Udah jangan sedih. Besok kita main bersama aja. Gimana mau gak?!” Ajak Maya.
“Boleh juga . Gimana kalau besok kita pergi ke puncak saja?! Ya sekalian refreshing..” Feni menawarkan tempat.
“Aku setuju.!” Maya mengangkat tangan kanannya penuh semangat.
“ Berarti besok kita kumpul lagi disini jam 10 pagi, OK!!” Ujar Feni.
“ Tapi gak papa kan kalau aku ajak Martin ikut ke Puncak?! Soalnya besok dia pasti datang ke rumah..”
Tanya Rita yang dari tadi diam.
“ Ya gak papa lah. Kalau kamu mau ajak Martin, aku juga mau ajak Ikhsan biar ada teman.” Feni menambahkan.
“ Kamu mau ajak siapa?!” Tanya Maya memandang Ami.
“ Siapa lagi kalau iukan Rezky. Pacar ku kan hanya Rezky seorang.” Jawab Ami dengan muka centil.
“ A ku sama siapa ya?!” Maya bingung.
“ Terserah. Kamu maunya sama siapa?! Cowok kamu kan banyak..” Sahut Rita.
“Emmh.. ya deh kalau gitu aku ajak Indra aja. Jadi ntar malam aku giliran sama yang lainnya.” Ucap Maya.
“ Ya sudah kalau lkalian mau pergi, pergi saja, aku gak ikut.” Rena sewot karena belum ada pasangan.
“ Kok gak ikut?! Biarin sendiri juga, toh kits jugs gsk bskslsn ngsps-ngspsin kok.” Ucap Rita.
“ Gak mau akh.. BT tar lihatin orang pacaran.” Sahut Rena.
“ Aku gak mau tau,, pokoknya semua harrus ikut. Besok di tunggu disini jam 10 pagi.” Paksa Feni.
* * *
Sepulang dari rumah Feni, Rena terlihat sangat bingung. Dia ingin ikut liburan ke puncak, tapi gak punya pasangan. Sepanjang perjalanan ke rumah dia tampak murung.
Ketika Rena turun dari angkot, hujan sangat deras. Rena pun berlari mencari tempat yang berteduh. Kemudian dia berteduh dibawah sebuah gapura pintu gerbang Sekolah Dasar
Rena yang sejak tadi tidak terlepas dari lamunannya, dia tidak menyadari kalau didepannya ada seorang laki-laki yang hendak bertanya.
“Permisi mbak..” Sapa lelaki itu.
“Oh, ya ada apa?!” Rena terkejut
“Pulang sekolah ya?! Ee…e… aku lihatin dari tadi kok kamu bengong terus?! Lagi melamun ya?!”
“Ya, aku baru pulang. Kamu siapa ya?!” Rena balik bertanya.
“Oh, iya. Aku Bagus. Kamu?!”
Dia mengulurkan tangan mengajak berkenalan.
“Aku Rena.’ Mereka bersalaman.
“Rena.. Hujannya deras banget ya, memang rumah kamu dimana?!” Bagus bertanya lagi.
“Tuh, di pertigaan depan.” Rena menunjukan jalan.
“Sekarang kan udah sore. Hujannya makin deras. Ee..e.e aku boleh antar kamu gak sampai kerumah?!”
Mendengar tawaran tersebut Rena sangat terkejut. Meskim sedikit malu, Rena menerima tawaran Bagus. Daripada harus hujan-hujanana, kan lumayan azas manfaat.
“Berangkat sekarang?!” Tanya lelaki itu sambil membukakan pintu mobil untuk Rena. Di dalam mobil mereka berdua hanya berdiam diri. Sesekali Rena menunjuk jalan.
“Makasi ya udah mau nganterin aku sampai rumah. Masuk dulu yuk!”
“Gak usah. Kapan-kapan lagi aja. Sekarang udah sore.”
“Ya sudah kalau gitu aku masuk dulu ya. Sekali lai makasih.”
* * *
Jam 9 pagi Rena duduk di depan jendela kamarnya, Dia maaaasih binggung antara ikut ke Puncak atau tidak. Belum lagi Feni yang sejak tadi pagi nelpon terus
“Rena.. Di luar ada temanmu cari kamu.’ Suara ibu dari luar kamar.
“Ya bu.. tunggu sebentar.”
Dengan segera Rena keluar kamar dan menuju ruang tamu.
“Kamu/! Ada apa?!” Rena terkejut melihat kedatangan Bagus ke rumahnya.
“Sorry aku kesini gak bilang-bilang dulu. Alu ganggu kamu gak?!’
“Engga. Ada ap ya?!” Rena masih bingung.
“Aku mau ngajak kamu keluar. Boleh kan?!” Ajak Bagus
“Kemana?!”:
Teeeeet…teeet…
Ren, gmn jd gk ikt ke Pncak? Lz
SMS dari Feni menanyakan keputusan dari Rena.
“Gimana kalau kita pergi bareng temen-temenku aja?! Ke Puncak.” Ajak Rena.
“Boleh.’
Mereka pun bergegas pergi. Rena sangat senang bisa pergi ke puncak dengan membawa pasangan. Tepat jam 10 semuanya sudah kumpul di rumah Feni. Tanpa menunggu apa lagi, mereka semua langsung berangkat menuju Puncak.
Sat di Puncak kebahagiaan Rena semakin memuncak. Tanpa di duga , ketika mereka ngobrol berdua, tiba-tiba Bagus mengutaakan perasannya dan meminta Rena untuk menjadi pacarnya.
Rena sangat terkejut, hatinya sangt senang. Rena pun menerima cintanya Bagus. Meskipun barru kenal kemarin sore, tapi Rena yakin kalau Bagus orangnya baik. Mereka pun akhirnya jadian dan Rena sudah tidak jomblo lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: